Namaku mifta saat ini
aku sedang menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi negri semester akhir di
kota bandung, Alhamdulillah aku bisa lolos ujian masuk perguruan tinggi negri
yang sangat di idam-idamkan oleh anak-anak yang ingin melanjutkan sekolahnya ke
jenjang yang lebih tinggi. Di sini aku mengambil S1 fakultas sastra.
Cita-citaku setelah lulus S1 ini adalah bisa melanjutkan study ku diluar negri,
yaa itupun jika biayanya mencukupi karna aku berasal dari keluarga sederhana
dengan satu orang adik. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang hebat, ya dia
memang hebat bisa menyeimbangkan antara mengurus keluarga dan kelompok
pengajiannya dan ayahku seorang pegawai di perusahaan swasta. Singkat cerita,
saat itu ada pengajian di salah satu masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah
dan kebetulan hari itu aku taka da jadwal kuliah ataupun kegiatan lainnya
dikampus. Aku fikir daripada bengong dirumah mending ikut ibuku ke pengajian,
bisa nambah-nambah ilmu. Oh iya kalau soal agama keluargaku memang tidak begitu
fanatik tetapi aku berusaha untuk selalu menaati segala perintahnya, seperti
memakai pakaian muslimah yang syar’I dan prinsipku ialah “no couple before
akad”.
Saat aku sedang asik
dengan laptopku tiba-tiba ada yang mengetuk pintu “tok..tok..tok..
Assalamu’alaikum mifta”
akupun segera beranjak
dan membukakan pintu “wa’alaikumussalam ! eh ummi, mifta kira siapa, ada apa um
?
ummi : “katanya kamu
mau ikut ummi pergi ke pengajian. ayo cepat bersiap-siap, sebentar lagi
pengajian nya dimulai jangan sampai telat, malu sendiri nanti kalau telat”
Aku : “ohh iya hampir
saja aku lupa, untung ummi mengingatkan. Ummi memang malaikat tak bersayapku
yang paling baik hehe” kataku dengan senyum yg lebar dan sambil memeluknya “yasudah
aku siap-siap dulu ya um”.
ummi : “iya, cepat ya !
ummi tunggu di depan” aku :”iya ummi, siap “. Aku pun bersiap-siap untuk
mengikuti pengajian, ku gunakan gamis berwarna coklat serta kerudung dengan
warna senada yang menutupi perut dan tak lupa kaos kaki pun aku pakai karna
kaki juga bagian dari aurat. Beberapa menit kemudian kamipun berangkat menuju
masjid tempat pengajian di adakan.
Sesampainya di masjid
kami bertemu dengan salah seorang ibu anggota pengajian, namanya bu ririn,
rumahnya tak begitu jauh dari rumahku, dia diantar oleh zikri anak laki-laki
satu-satunya mengunakan sepeda motor.
Kami berhenti dan
berbincang sebentar. Ibu : “assalamu’alaikum, tumben bu ririn di antar sama nak
zikri” dengan senyum manisnya ibuku
Bu ririn : “wa’alaikumussalam
! iya bu fatimah, kebetulan sedang ada di sini jadi sekali-kali nganterin ke
pengajian, kalau saja pengajian nya untuk ikhwan dan akhwat pasti dia ikut
gabung tapi sayangnya ini khusus untuk akhwat”
Oh iya zikri saat ini
sedang kuliah sekaligus kerja di ibukota jadi jarang-jarang dia ada di bandung,
karena kesibukkannya itu. Umurnya lebih tua satu setengah tahun dariku, keluarganya
pindah ke bandung kurang lebih satu tahun yang lalu, termasuk keluarga yang
taat agama dan sangat ramah terhadap tetangga-tetangganya. Yang aku tahu dari
teman-teman akhwatku, dia itu orang yang baik, sopan, pintar dan yang
terpenting adalah agamanya bagus. Yaa tipe-tipe ikhwan idaman akhwat gitu lah..
hehe
Aku tidak tahu apakah
yang mereka ceritakan itu benar atau tidak karna sekalipun aku tak pernah
bertemu dengannya sebelumnya meskipun rumahnya tak jauh dari rumahku. Dan
setiap kali teman-temanku menceritakkannya aku selalu cuek dan tidak terlalu
serius menanggapinya karna aku rasa belum saatnya untuk memikirkan tentang
ikhwan. Aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresi mereka saat menceritakan kak
zikri.
Ini adalah pertemuan
pertamaku dengan kak zikri.
Kak zikri :
“assalamu’alaikum bu Fatimah dan mifta” sembari mengatupkan kedua tangannya di
dadanya.
Ibu : “wa’alaikumussalam
nak zikri !”
Aku : “wa’alaikumussalam
kak zikri ! kok kak zikri tahu namaku ? sebelumnya kan kak zikri tidak pernah
bertemu dan berkenalan denganku” entah kenapa saat itu jantungku berdegup tak
seperti biasanya. “ada yang aneh dengan diriku” gumamku dalam hati.
Kak zikri :”iya memang,
tapi ibuku sering menceritakkan tentangmu padaku mifta” sambil tersenyum
Aku : “oh begitu kak”
aku langsung mendudukan kepalaku karena malu. Dan perbincanganpun berakhir
karna pengajian akan segera dimuali kami bertiga masuk kedalam masjid.
Detik berganti menit,
menit berganti jam, jam berganti hari sampai beberapa minggu. Tak pernah
terlintas dalam pikiranku sedikitpun tentang kak zikri setelah pertemuan kami
yang pertama itu sampai saat tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku dari nomor
yang tak aku kenal.
“assalamu’alaikum mifta,
apa kabarmu dan keluarga ? ini kak zikri” begitulah isinya.
Sempat termangu
sebentar membaca pesan itu dengan sederet pertanyaan dalam hatiku “kak zikri ?
yang waktu itu bertemu di masjid ? ah yang benar saja, mungkin hanya namanya
yang sama. Tapi kalau memang benar itu kak zikri yang waktu itu, dapat nomorku
dari mana ?”
Aku pun segera
mengetikkan pesan balasan ke nomor tersebut “wa’alaikumussalam, kak zikri yang
waktu itu ketemu di masjid ? masya allah, sampai kaget aku tiba-tiba ka zikri
kirim pesan ke aku. alhamdulillah semuanya sehat kak, bagaimana dengan kakak ?”
Kak zikri :”iya mifta,
ini kak zikri yang waktu itu bertemu di masjid, syukurlah kalau mifta dan
keluarga sehat-sehat saja. Alhamdulillah kakak juga sehat di sini. Kakak dapat
nomor mu dari ummi mu mifta, maaf yaa.. hehe”
Aku :”iya kak tidak
apa-apa”
Kak zikri : “lama ya
tidak bertemu lagi sama mifta, masih suka ikut ngaji bareng ummi ?”
Aku : “iya,
Alhamdulillah masih kak”
Aku bingung apa yang
harus aku tanyakan pada kak zikri, jadi yaa aku hanya menjawab pertanyaan yang
kak zikri tanyakan padaku. Maklum sebelumnya aku tidak pernah berbalas pesan
dengan ikhwan yang selain keuargaku. Mungkin itu juga penyebabnya.
Mulai dari sinilah kami
akrab, meskipun hanya lewat pesan singkat kami sering sharing tentang agama,
kegiatan kuliahku atau dia, sampai sharing tentang pengalaman masing-masing.
Pernah suatu ketika, saat kak zikri pulang ke bandung dia mampir ke rumahku
untuk mengambil titipan ibunya dari ummi yang tiba-tiba dan mengagetkan.
Siang itu aku sedang
duduk-duduk diruang keluarga.
“assalamu’alaikum ibu
Fatimah” terdengar suara laki-laki dari belakang pintu.
Karena dirumah hanya
ada aku, aku pun segera menuju pintu dan mengintip disela-sela jendela untuk
memastikan siapa yang bertamu, sontak aku kaget karena suara itu adalah suara
ka zikri.
“wa’alaikumussalam,
tunggu sebentar” dan akupun segera lari ke kamar untuk mengenakan jilbab dan
kaos kaki ku tentunya, setelah itu baru aku membuka pintu.
“iya kak zikri, maaf
menunggu lama. Ada perlu apa ya kak ? “
“ohh tidak apa-apa mifta,
kakak kesini hanya ingin mengambil titipan barang di ummi mu” jawab kak zikri
Aku tidak berani
mempersilahkannya masuk kedalam rumah karena sedang tidak ada siapa-siapa
dirumah apalagi yang bertamu seorang ikhwan.
“oh iya mifta tau kak,
tadi sebelum pergi ummi sudah berpesan. Tunggu sebentar ya kak, oh ya sekali
lagi maaf kak kalau mifta tidak mempersilahkan kakak masuk kedalam rumah karna
di rumah sedang tidak ada siapa-siapa kecuali mifta”
“iya kakak maklum ko
mifta, kakak tunggu disini saja”
Setelah mengambil
titipan ibunya, kak zikri pun langsung pamit.
Tanpa disadari aku
senyum-senyum sendiri setelah kak zikri pamit.
Sejak saat itu kak
zikri selalu mampir dipikiranku. Aku mulai menyadari bahwa ada salah dengan
diriku, ada yang aneh. Apa ini yang namanya jatuh cinta ? aku terus
mempertanyakan itu pada hatiku, meskipun sempat mengelak tapi ini memang benar.
Ya, aku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Terjadi perang batin saat itu
antara prinsip yang sudah lama aku pertahankan dengan ini.
Hakikatnya cinta memang
fitrah, tapi aku sadar cara seperti ini salah. Dengan berbalas pesan singkat,
memberi perhatian atau bertelpon meskipun tak bertatap muka.
Ku terawang langit
malam bertabur bintang dibalik kaca jendela kamarku
Aku sadar, waktunya
belum tepat. Aku belum siap untuk menikah, aku tak ingin terjadi fitnah
diantara kami berdua. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menjauhi ka zikri demi
menjaga diri kami masing-masing.
Entah kenapa yang ada
dibenakku saat itu adalah rasa takutku akan posisi kak zikri dan Rabb ku. Aku
takut posisi kak zikri lebih tinggi daripada posisi Allah dihatiku.
Hanya mengorbankan
perasaan yang datang diwaktu yang belum tepat, aku rasa tak ada salahnya jika akan
ada seseorang yang terbaik menurutnya yang sudah dijanjikan untukku. Tak terasa
butir demi butir airmata ku pun menetes mengalir di pipiku tanpa ada yang
menghalangi.
Jika memang kak zikri
adalah jodohku, aku yakin Allah akan menyatukan kami berdua.
Perasaan
aneh ini akan ku simpan, akan ku rahasiakan cukup aku dan Dia saja yang tau..
Akan
kuserahkan rasa ini hanya kepadaNya, Sang Maha Cinta..
Agar
fitrah ini tetap suci adanya..
Agar
kita sama-sama terjaga..
Sampai
kau benar-benar bisa menjemputku dan mengucap janji suci..
Saat
itulah akan aku berikan cinta yang utuh untuk mu..
Hanya
untuk mu, insya allah..
Jika
itu kehendakNya niscaya akan tetap bertahan rasa ini untukmu..
Semoga
kau baik-baik saja..
Hanya
ini yang aku bisa..
Tekad ku sudah bulat,
aku harus menetralkan hatiku. Ku ganti sim card ku dan ku hapus nomor ponsel
kak zikri dari hanphone ku. Sesaat aku menghela nafas panjang, aku yakin akan
takdirNya yang pasti jauh lebih indah.
Setiap malam aku berdoa
memohon petunjuk atas perasaanku ini lewat istikharahku.
Setelah hampir 2tahun
tak tahu kabar apapun tentang kak zikri aku mendengar kabar dari tetangga bahwa
kak zikri akan segera melangsungkan pernikahan dijakarta dan kabar itu
dibenarkan dengan datangnya undangan pernikahan yang diberikan oleh ibunda ka
zikri sendiri ke rumahku. Dan ternyata perasaanku masih belum hilang. Entah apa
yang aku rasakan saat itu, harus bahagia atau sedih atas kabar ini. Untungnya
ummi ku tak mengetahui tentang perasaanku pada ka zikri sehingga tidak merasa
sedih mendengar orang yang dicintai anaknya akan segera melangsungkan
pernikahan.
Ya, aku harus
berbahagia atas kabar ini. Bukankah aku sudah menyerahkan semua ini di
tanganNya ? Bagaimanapun juga ini adalah keputusanNya yang selama ini aku
tunggu, inilah jawaban atas istikharahku setiap malam. Meskipun ada sedikit
rasa sesak dalam dada, aku mencoba untuk menyembunyikannya, aku yakin Allah
akan menggantikan dengan yang lebih baik menurutNya.
Akhirnya aku memutuskan
untuk menghadiri resepsi pernikahan kak zikri.
“bismillah, siapkan
mental. Jangan sampai terlihat sedih didepannya” helaan nafas yang panjang
memulai langkahku.
Dan sampailah ditempat
paling menegangkan untukku. Pesta pernikahan kak zikri. Aku pun segera menyapa
dan memberi selamat kepada kedua mempelai ini. Tahulah bagaimana sesaknya
dadaku saat ini.
“waahh rupanya mifta
hadir, kaka kira kamu tak akan datang kesini. Bagaimana kabarmu ? ini istriku
mifta namanya Fatima” ucap kak zikri sambil tersenyum.
“iya kak Alhamdulillah
disempatkan untuk hadir. Alhamdulillah baik-baik ka. Oh iya, aku mifta” sambil
mengulurkan tangan. Setelah itu aku langsung buru-buru pamit pulang.
Selang 2 minggu dari
pesta resepsi kak zikri ada seorang ikhwan yang menelpon ke rumahku dan
menyatakan maksudnya untuk datang dan melamarku. Tentu aku sangat kaget. Siapa
ikhwan ini ? belum pernah bertemu, tau nama nya pun tidak. Kenapa tiba-tiba
ingin melamarku, heran.
Setelah ditanya ibu ku
namanya hafiz, ternyata dia telah mengenalku melalui kak zikri, saat di resepsi
kak zikri dia melihatku dan tertarik ingin megenalku dan dia menanyakan apapun
tentangku kepada kak zikri. Karna aku belum mengenalnya maka kami putuskan
melakukan ta’aruf terlebih dahulu melalui saudaraku. Tak lama kami berta’aruf,
hanya satu bulan dan akupun sudah benar-benar yakin kepadanya dan keluarga kami
pun sudah setuju. Minggu depan kak hafiz datang kerumahku untuk mengkhitbahku
dan seminggu kemudian kami akan melangsungkan pernikahan.
Sungguh indah rencanaMu
ya Rabbi..sujud syukurku atas semua ini..
Kesabaranku kini
berbuah manis..
Aku manangis bahagia..
Dengan cara yang indah
Kau pertemukan aku dengan pemilik tulang rusuk yang bengkok ini..
Lewat beberapa menit
mengucap ijab qabul, dengan mahar hafalan surat Ar-Rahman dan seperangkat alat
solat dia meminangku. Aku mendapatkan suami yang baik, shaleh dan sederhana.
Semoga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dan disatukan
kembali di syurgaMu.
Lengkungan senyum dibibirku
senantiasa menghiasi wajahku kala itu, “Maka nikmat Rabb mu yang manakah yang
kamu dustakan ?”.
-SELESAI-
J
Subhanallah :) smoga kalian adalah jodoh yg tepat, yg lngsung dprtemukan oleh Allah S.W.T. amin ya Rabb
BalasHapussy syp yah mdh"an kbagian turun dr lauhul mahfudz XD
:D
Hapustemanya bagus. tapi alur ceritanya monoton. itu seperti diary yang mana pembacanya sulit menemukan emosi dan konflik. tetap semangat berkarya.
BalasHapusTerima kasih :)
Hapus