Senin, 20 Oktober 2014

HAFALAN SURAT AR-RAHMAN MENJADI SAKSI CINTA KAMI





Namaku mifta saat ini aku sedang menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi negri semester akhir di kota bandung, Alhamdulillah aku bisa lolos ujian masuk perguruan tinggi negri yang sangat di idam-idamkan oleh anak-anak yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Di sini aku mengambil S1 fakultas sastra. Cita-citaku setelah lulus S1 ini adalah bisa melanjutkan study ku diluar negri, yaa itupun jika biayanya mencukupi karna aku berasal dari keluarga sederhana dengan satu orang adik. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang hebat, ya dia memang hebat bisa menyeimbangkan antara mengurus keluarga dan kelompok pengajiannya dan ayahku seorang pegawai di perusahaan swasta. Singkat cerita, saat itu ada pengajian di salah satu masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah dan kebetulan hari itu aku taka da jadwal kuliah ataupun kegiatan lainnya dikampus. Aku fikir daripada bengong dirumah mending ikut ibuku ke pengajian, bisa nambah-nambah ilmu. Oh iya kalau soal agama keluargaku memang tidak begitu fanatik tetapi aku berusaha untuk selalu menaati segala perintahnya, seperti memakai pakaian muslimah yang syar’I dan prinsipku ialah “no couple before akad”.
Saat aku sedang asik dengan laptopku tiba-tiba ada yang mengetuk pintu “tok..tok..tok.. Assalamu’alaikum mifta”
akupun segera beranjak dan membukakan pintu “wa’alaikumussalam ! eh ummi, mifta kira siapa, ada apa um ?
ummi : “katanya kamu mau ikut ummi pergi ke pengajian. ayo cepat bersiap-siap, sebentar lagi pengajian nya dimulai jangan sampai telat, malu sendiri nanti kalau telat”
Aku : “ohh iya hampir saja aku lupa, untung ummi mengingatkan. Ummi memang malaikat tak bersayapku yang paling baik hehe” kataku dengan senyum yg lebar dan sambil memeluknya “yasudah aku siap-siap dulu ya um”.
ummi : “iya, cepat ya ! ummi tunggu di depan” aku :”iya ummi, siap “. Aku pun bersiap-siap untuk mengikuti pengajian, ku gunakan gamis berwarna coklat serta kerudung dengan warna senada yang menutupi perut dan tak lupa kaos kaki pun aku pakai karna kaki juga bagian dari aurat. Beberapa menit kemudian kamipun berangkat menuju masjid tempat pengajian di adakan.
Sesampainya di masjid kami bertemu dengan salah seorang ibu anggota pengajian, namanya bu ririn, rumahnya tak begitu jauh dari rumahku, dia diantar oleh zikri anak laki-laki satu-satunya mengunakan sepeda motor.
Kami berhenti dan berbincang sebentar. Ibu : “assalamu’alaikum, tumben bu ririn di antar sama nak zikri” dengan senyum manisnya ibuku
Bu ririn : “wa’alaikumussalam ! iya bu fatimah, kebetulan sedang ada di sini jadi sekali-kali nganterin ke pengajian, kalau saja pengajian nya untuk ikhwan dan akhwat pasti dia ikut gabung tapi sayangnya ini khusus untuk akhwat”
Oh iya zikri saat ini sedang kuliah sekaligus kerja di ibukota jadi jarang-jarang dia ada di bandung, karena kesibukkannya itu. Umurnya lebih tua satu setengah tahun dariku, keluarganya pindah ke bandung kurang lebih satu tahun yang lalu, termasuk keluarga yang taat agama dan sangat ramah terhadap tetangga-tetangganya. Yang aku tahu dari teman-teman akhwatku, dia itu orang yang baik, sopan, pintar dan yang terpenting adalah agamanya bagus. Yaa tipe-tipe ikhwan idaman akhwat gitu lah.. hehe
Aku tidak tahu apakah yang mereka ceritakan itu benar atau tidak karna sekalipun aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya meskipun rumahnya tak jauh dari rumahku. Dan setiap kali teman-temanku menceritakkannya aku selalu cuek dan tidak terlalu serius menanggapinya karna aku rasa belum saatnya untuk memikirkan tentang ikhwan. Aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresi mereka saat menceritakan kak zikri.
Ini adalah pertemuan pertamaku dengan kak zikri.
Kak zikri : “assalamu’alaikum bu Fatimah dan mifta” sembari mengatupkan kedua tangannya di dadanya.
Ibu : “wa’alaikumussalam nak zikri !”
Aku : “wa’alaikumussalam kak zikri ! kok kak zikri tahu namaku ? sebelumnya kan kak zikri tidak pernah bertemu dan berkenalan denganku” entah kenapa saat itu jantungku berdegup tak seperti biasanya. “ada yang aneh dengan diriku” gumamku dalam hati.
Kak zikri :”iya memang, tapi ibuku sering menceritakkan tentangmu padaku mifta” sambil tersenyum
Aku : “oh begitu kak” aku langsung mendudukan kepalaku karena malu. Dan perbincanganpun berakhir karna pengajian akan segera dimuali kami bertiga masuk kedalam masjid.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari sampai beberapa minggu. Tak pernah terlintas dalam pikiranku sedikitpun tentang kak zikri setelah pertemuan kami yang pertama itu sampai saat tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku dari nomor yang tak aku kenal.
“assalamu’alaikum mifta, apa kabarmu dan keluarga ? ini kak zikri” begitulah isinya.
Sempat termangu sebentar membaca pesan itu dengan sederet pertanyaan dalam hatiku “kak zikri ? yang waktu itu bertemu di masjid ? ah yang benar saja, mungkin hanya namanya yang sama. Tapi kalau memang benar itu kak zikri yang waktu itu, dapat nomorku dari mana ?”
Aku pun segera mengetikkan pesan balasan ke nomor tersebut “wa’alaikumussalam, kak zikri yang waktu itu ketemu di masjid ? masya allah, sampai kaget aku tiba-tiba ka zikri kirim pesan ke aku. alhamdulillah semuanya sehat kak, bagaimana dengan kakak ?”
Kak zikri :”iya mifta, ini kak zikri yang waktu itu bertemu di masjid, syukurlah kalau mifta dan keluarga sehat-sehat saja. Alhamdulillah kakak juga sehat di sini. Kakak dapat nomor mu dari ummi mu mifta, maaf yaa.. hehe”
Aku :”iya kak tidak apa-apa”
Kak zikri : “lama ya tidak bertemu lagi sama mifta, masih suka ikut ngaji bareng ummi ?”
Aku : “iya, Alhamdulillah masih kak”
Aku bingung apa yang harus aku tanyakan pada kak zikri, jadi yaa aku hanya menjawab pertanyaan yang kak zikri tanyakan padaku. Maklum sebelumnya aku tidak pernah berbalas pesan dengan ikhwan yang selain keuargaku. Mungkin itu juga penyebabnya.
Mulai dari sinilah kami akrab, meskipun hanya lewat pesan singkat kami sering sharing tentang agama, kegiatan kuliahku atau dia, sampai sharing tentang pengalaman masing-masing. Pernah suatu ketika, saat kak zikri pulang ke bandung dia mampir ke rumahku untuk mengambil titipan ibunya dari ummi yang tiba-tiba dan mengagetkan.
Siang itu aku sedang duduk-duduk diruang keluarga.
“assalamu’alaikum ibu Fatimah” terdengar suara laki-laki dari belakang pintu.
Karena dirumah hanya ada aku, aku pun segera menuju pintu dan mengintip disela-sela jendela untuk memastikan siapa yang bertamu, sontak aku kaget karena suara itu adalah suara ka zikri.
“wa’alaikumussalam, tunggu sebentar” dan akupun segera lari ke kamar untuk mengenakan jilbab dan kaos kaki ku tentunya, setelah itu baru aku membuka pintu.
“iya kak zikri, maaf menunggu lama. Ada perlu apa ya kak ? “
“ohh tidak apa-apa mifta, kakak kesini hanya ingin mengambil titipan barang di ummi mu” jawab kak zikri
Aku tidak berani mempersilahkannya masuk kedalam rumah karena sedang tidak ada siapa-siapa dirumah apalagi yang bertamu seorang ikhwan.
“oh iya mifta tau kak, tadi sebelum pergi ummi sudah berpesan. Tunggu sebentar ya kak, oh ya sekali lagi maaf kak kalau mifta tidak mempersilahkan kakak masuk kedalam rumah karna di rumah sedang tidak ada siapa-siapa kecuali mifta”
“iya kakak maklum ko mifta, kakak tunggu disini saja”
Setelah mengambil titipan ibunya, kak zikri pun langsung pamit.
Tanpa disadari aku senyum-senyum sendiri setelah kak zikri pamit.
Sejak saat itu kak zikri selalu mampir dipikiranku. Aku mulai menyadari bahwa ada salah dengan diriku, ada yang aneh. Apa ini yang namanya jatuh cinta ? aku terus mempertanyakan itu pada hatiku, meskipun sempat mengelak tapi ini memang benar. Ya, aku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Terjadi perang batin saat itu antara prinsip yang sudah lama aku pertahankan dengan ini.
Hakikatnya cinta memang fitrah, tapi aku sadar cara seperti ini salah. Dengan berbalas pesan singkat, memberi perhatian atau bertelpon meskipun tak bertatap muka.
Ku terawang langit malam bertabur bintang dibalik kaca jendela kamarku

Aku sadar, waktunya belum tepat. Aku belum siap untuk menikah, aku tak ingin terjadi fitnah diantara kami berdua. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menjauhi ka zikri demi menjaga diri kami masing-masing.
Entah kenapa yang ada dibenakku saat itu adalah rasa takutku akan posisi kak zikri dan Rabb ku. Aku takut posisi kak zikri lebih tinggi daripada posisi Allah dihatiku.
Hanya mengorbankan perasaan yang datang diwaktu yang belum tepat, aku rasa tak ada salahnya jika akan ada seseorang yang terbaik menurutnya yang sudah dijanjikan untukku. Tak terasa butir demi butir airmata ku pun menetes mengalir di pipiku tanpa ada yang menghalangi.
Jika memang kak zikri adalah jodohku, aku yakin Allah akan menyatukan kami berdua.
Perasaan aneh ini akan ku simpan, akan ku rahasiakan cukup aku dan Dia saja yang tau..
Akan kuserahkan rasa ini hanya kepadaNya, Sang Maha Cinta..
Agar fitrah ini tetap suci adanya..
Agar kita sama-sama terjaga..
Sampai kau benar-benar bisa menjemputku dan mengucap janji suci..
Saat itulah akan aku berikan cinta yang utuh untuk mu..
Hanya untuk mu, insya allah..
Jika itu kehendakNya niscaya akan tetap bertahan rasa ini untukmu..
Semoga kau baik-baik saja..
Hanya ini yang aku bisa..
Tekad ku sudah bulat, aku harus menetralkan hatiku. Ku ganti sim card ku dan ku hapus nomor ponsel kak zikri dari hanphone ku. Sesaat aku menghela nafas panjang, aku yakin akan takdirNya yang pasti jauh lebih indah.
Setiap malam aku berdoa memohon petunjuk atas perasaanku ini lewat istikharahku.
Setelah hampir 2tahun tak tahu kabar apapun tentang kak zikri aku mendengar kabar dari tetangga bahwa kak zikri akan segera melangsungkan pernikahan dijakarta dan kabar itu dibenarkan dengan datangnya undangan pernikahan yang diberikan oleh ibunda ka zikri sendiri ke rumahku. Dan ternyata perasaanku masih belum hilang. Entah apa yang aku rasakan saat itu, harus bahagia atau sedih atas kabar ini. Untungnya ummi ku tak mengetahui tentang perasaanku pada ka zikri sehingga tidak merasa sedih mendengar orang yang dicintai anaknya akan segera melangsungkan pernikahan.
Ya, aku harus berbahagia atas kabar ini. Bukankah aku sudah menyerahkan semua ini di tanganNya ? Bagaimanapun juga ini adalah keputusanNya yang selama ini aku tunggu, inilah jawaban atas istikharahku setiap malam. Meskipun ada sedikit rasa sesak dalam dada, aku mencoba untuk menyembunyikannya, aku yakin Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik menurutNya.
Akhirnya aku memutuskan untuk menghadiri resepsi pernikahan kak zikri.
“bismillah, siapkan mental. Jangan sampai terlihat sedih didepannya” helaan nafas yang panjang memulai langkahku.
Dan sampailah ditempat paling menegangkan untukku. Pesta pernikahan kak zikri. Aku pun segera menyapa dan memberi selamat kepada kedua mempelai ini. Tahulah bagaimana sesaknya dadaku saat ini.
“waahh rupanya mifta hadir, kaka kira kamu tak akan datang kesini. Bagaimana kabarmu ? ini istriku mifta namanya Fatima” ucap kak zikri sambil tersenyum.
“iya kak Alhamdulillah disempatkan untuk hadir. Alhamdulillah baik-baik ka. Oh iya, aku mifta” sambil mengulurkan tangan. Setelah itu aku langsung buru-buru pamit pulang.
Selang 2 minggu dari pesta resepsi kak zikri ada seorang ikhwan yang menelpon ke rumahku dan menyatakan maksudnya untuk datang dan melamarku. Tentu aku sangat kaget. Siapa ikhwan ini ? belum pernah bertemu, tau nama nya pun tidak. Kenapa tiba-tiba ingin melamarku, heran.
Setelah ditanya ibu ku namanya hafiz, ternyata dia telah mengenalku melalui kak zikri, saat di resepsi kak zikri dia melihatku dan tertarik ingin megenalku dan dia menanyakan apapun tentangku kepada kak zikri. Karna aku belum mengenalnya maka kami putuskan melakukan ta’aruf terlebih dahulu melalui saudaraku. Tak lama kami berta’aruf, hanya satu bulan dan akupun sudah benar-benar yakin kepadanya dan keluarga kami pun sudah setuju. Minggu depan kak hafiz datang kerumahku untuk mengkhitbahku dan seminggu kemudian kami akan melangsungkan pernikahan.
Sungguh indah rencanaMu ya Rabbi..sujud syukurku atas semua ini..
Kesabaranku kini berbuah manis..
Aku manangis bahagia..
Dengan cara yang indah Kau pertemukan aku dengan pemilik tulang rusuk yang bengkok ini..
Lewat beberapa menit mengucap ijab qabul, dengan mahar hafalan surat Ar-Rahman dan seperangkat alat solat dia meminangku. Aku mendapatkan suami yang baik, shaleh dan sederhana. Semoga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dan disatukan kembali di syurgaMu.
Lengkungan senyum dibibirku senantiasa menghiasi wajahku kala itu, “Maka nikmat Rabb mu yang manakah yang kamu dustakan ?”.
-SELESAI-
J

4 komentar:

  1. Subhanallah :) smoga kalian adalah jodoh yg tepat, yg lngsung dprtemukan oleh Allah S.W.T. amin ya Rabb
    sy syp yah mdh"an kbagian turun dr lauhul mahfudz XD

    BalasHapus
  2. temanya bagus. tapi alur ceritanya monoton. itu seperti diary yang mana pembacanya sulit menemukan emosi dan konflik. tetap semangat berkarya.

    BalasHapus